Jumat, 08 Juni 2012

Common Denominator ~Part 2~ (Love is Simple New Chapter)


Canis melenggang melewati halaman kampusnya, tempat baru yang masih terasa asing. Beberapa mahasiswa duduk di area parkir, bercanda dan tertawa, menceritakan pengalaman libur semester mereka. Keriuhan yang sama terjadi juga di koridor gedung bernuansa biru muda itu, mahasiswanya duduk dalam kerumunan-kerumunan mereka sendiri, melepas rindu yang timbul akibat liburan dengan menyanyi dan berbagi cerita. Sedangkan para mahasiswa baru direpotkan dengan mencari kelas yang akan mereka jadikan ruang kuliah di jam pertama, Canis termasuk di dalamnya, dia terus melayangkan pandangannya ke setiap pintu, mencari pintu dengan kode F.04-212 seperti yang tertera di kertas jadwal dalam genggamannya.
            “Canis!”
Seruan itu datang dari balik punggung Canis, membuat gadis yang dipanggil langsung membalikkan badan, tak berkedip dalam sekejap mata.
            Rambut blonde dengan hair flip yang mampu menutupi alis tebal itu telah tidak ada, berganti dengan potongan cepak, senyuman lebar dengan menunjukkan barisan gigi rapi itu telah berubah dengan segaris merah bibir yang menghiasi kulit putihnya, bukan lagi kaos dan hoodie colourfull yang membalut tubuhnya melainkan kaos putih polos dengan jaket kulit hitam, yang masih sama dari semua perubahan itu adalah sepatu supra.
            “Hai,”
Bahkan suara yang dulu bisa menjerit dengan lengkingan layaknya seorang gadis itu telah berubah total, terdengar lebih menggemuruh.
            “Kau sakit? Atau lupa padaku?”
            “Justin?”

Sabtu, 26 Mei 2012

Ada Apa dengan Namamu?



Kulempar buku tugas matematikaku ke sudut ranjang. Aku sudah bosan mengerjakan soal-soalnya, otakku sudah hampir mendidih tapi dua soal dari lima belas soal itu benar-benar menyulitkanku sejak dua jam yang lalu. Aku tidak bisa mengerjakannya. Sebenarnya orang bodoh mana yang menemukan matematika? Kalau aku tahu orang dan tanggal lahirnya, aku akan menculik Doraemon dari Nobita, meminta mesin waktu untuk kugunakan pergi, menjepit hidung bayi penemu matematika itu. Oke! Aku gila.
Ponselku berdering ketika aku hendak mengambil lagi bukuku, aku bisa mati kalau PRku tidak selesai. Kualihkan tangan kananku untuk mengambil ponselku. Ada sebuah pesan.
Vira, maaf ganggu. PR mat, hlmn brpa ya?
Kalimat itu tertera di layar ponselku. Jantungku berdegup kencang, mendadak bahagia merengkuhku, sejuk layaknya hujan di musim kemarau. Bukan! Bukan karena PR matematika yang ditanyakan tetapi karena nama si pengirim di pesan yang ada di ponselku. 11A_Dody.
Demi kehitaman Barack Obama! Apa benar dia bertanya kepadaku? Di antar dua puluh gadis di kelas, diantara tiga puluh sembilan teman dikelas, dia memilihku untuk dikirimi sms? Tanggal berapa sekarang? Akan kulingkari kalenderku.
Sambil mengingat-ingat wajah Dody yang sedang tersenyum, kuketik sebuah pesan balasan untuknya. Kuakhiri pesanku dengan sebuah tanda senyum. Siap kukirim tapi kuurungkan, kulihat ulang pesan dari Dody tadi. Tidak ada senyum di pesannya. Sebaiknya kuhapus saja senyum itu, aku tidak mau dianggap yang tidak baik. Aku takut dia tahu kalau aku menyukainya.
Aku takut dia tahu dan aku akan malu karenanya. Segera kukirim pesan balasanku, hanya apa yang dia minta. Isi pesanku: 96.