Common Denominator ~Part 2~ (Love is Simple New Chapter)


Canis melenggang melewati halaman kampusnya, tempat baru yang masih terasa asing. Beberapa mahasiswa duduk di area parkir, bercanda dan tertawa, menceritakan pengalaman libur semester mereka. Keriuhan yang sama terjadi juga di koridor gedung bernuansa biru muda itu, mahasiswanya duduk dalam kerumunan-kerumunan mereka sendiri, melepas rindu yang timbul akibat liburan dengan menyanyi dan berbagi cerita. Sedangkan para mahasiswa baru direpotkan dengan mencari kelas yang akan mereka jadikan ruang kuliah di jam pertama, Canis termasuk di dalamnya, dia terus melayangkan pandangannya ke setiap pintu, mencari pintu dengan kode F.04-212 seperti yang tertera di kertas jadwal dalam genggamannya.
            “Canis!”
Seruan itu datang dari balik punggung Canis, membuat gadis yang dipanggil langsung membalikkan badan, tak berkedip dalam sekejap mata.
            Rambut blonde dengan hair flip yang mampu menutupi alis tebal itu telah tidak ada, berganti dengan potongan cepak, senyuman lebar dengan menunjukkan barisan gigi rapi itu telah berubah dengan segaris merah bibir yang menghiasi kulit putihnya, bukan lagi kaos dan hoodie colourfull yang membalut tubuhnya melainkan kaos putih polos dengan jaket kulit hitam, yang masih sama dari semua perubahan itu adalah sepatu supra.
            “Hai,”
Bahkan suara yang dulu bisa menjerit dengan lengkingan layaknya seorang gadis itu telah berubah total, terdengar lebih menggemuruh.
            “Kau sakit? Atau lupa padaku?”
            “Justin?”
Desis Canis, ada binar di sorot matanya yang memancarkan rasa tak percaya bercampur bahagia. Entah, tapi tbuh gadis itu lansung saja bergerak, kedua lengannya merengkuh tubuh Justin yang kini berada di hadapannya, ke dalam pelukannya.
            “Aku sangat merindukanmu,” Ucapnya saat Justin membalas pelukannya.
            “aku juga merindukanmu,”
Beberapa saat kemudian, kesadaran itu timbul, Canis melepas pelukannya dan seketika itu juga menyadari bahwa cowok bernama Justin itu telah jauh lebih tinggi darinya, seingatnya dulu mereka sejajar.
            “Kau semakin tinggi,”
            “Dan kau tidak tumbuh sama sekali,”
Justin terkekeh oleh kata-katanya sendiri sementara Canis cemberut, dia akui memang dia merasa semua orang sama saja sedangkan dirinya terus menyusut.
            “Masuk kelas apa?”
Tanya Canis, dia melirik kertas yang berada di tangan Justin. Justin tersenyum manis, dia melirik papan nomor kelas di sampingnya.
            “Yang jelas jadwal pertama aku di ruangan ini,” Jawab Justin, senyuman itu semakin mengembang saat dia mendapati gurat-gurat kebahagiaan dan rasa tak percaya yang perlahan-lahan menghiasi wajah gadis itu. Tak perlu banyak bicara, Canis langsung menggandeng Justin untuk masuk ke dalm kelas itu,dia memilih tempat duduk di barisan paling belakang untuk dia dan Justin.
            “Jangan banyak protes,kau harus bercerita banyak hal kepadaku,”
Canis menunjuk hidung Justin dan memelototi cowok bermata hazel itu saat Justin melemparkan tatapan protes atas pilihan tempat duduk itu. Dia tidak suka duduk di belakang.
***

            Canis melangkah ceria mengikuti langkah Justin yang berjalan di sampingnya. Senja telah jatuh saat keduanya keluar dari kelas terakhir di hari pertama kuliah itu. Hari pertama yang langsung menyambut keduanya dengan tugas-tugas.
            “Kuantar pulang ya? Atau Bintang akan menjemputmu?”
Justin bertanya,memulai pembicaraan mereka tepat saat mereka menginjakkan kaki di halaman depan fakultas yang luas.
            “Bintang sudah pulang, tadi dia mengirimiku pesan. Kau yakin mau mengantarku? Tidak merepotkan nih?” Canis mengubah cara berjalannya, dia melangkah mundur, berhadap-hadapan dengan Justin masih sedikit tidak percaya dengan keberadaan cowok itu di dekatnya.
            “Siapa dulu yang selalu menunggumu di depan pintu rumah dan berteriak. Canis cepat!”
Canis terkikik geli mendengarnya, mendengar Justin yang menirukan gayanya dulu setiap kali dia terlambat bangun untuk sekolah.
            “Baiklah, kuharap kau tidak membawa skateboard-mu dan aku harus adu lari jempol dulu sebelum aku kau izinkan naik skate dan kau berlari,” Canis menghentikan langkahnya, dia menelengkan kepala memperhatikan Justin yang tersenyum kepadanya. Senyuman yang datang bersama pancaran sinar mata penuh kasih sayang yang selalu lekat dengan wajah Justin. Wajah itu secara fisik memang berubah tapi pancaran mata dan aura ketulusan itu masih sama, Canis hafal benar dengan hal itu. Cara Justin memandang dan tersenyum.
            “Skateboard-ku sekarang hanya punya dua roda tapi bisa dipakai dua orang sekaligus,”
***

            Canis mengeratkan pegangannya di bahu Justin. Ini untuk kali pertama dia merasakan dibonceng menggunakan oleh cowok itu. Sebuah pengalaman baru baginya, pengalaman menyenangkan di hari pertama dia bertemu lagi dengan mantan pacarnya itu, dalam sebuah suasana menyenangkan. Dia bahagia bisa melepaskan rindu itu, bahagia karena Justin masih begitu baik padanya meskipun luka itu telah dia torehkan dihati Justin, dia bahagia karena sikap Justin kepadanya sama sekali tidak berubah. Sama seperti dulu.
            Canis menikmati udara yang berhembus menerpa wajahnya, aroma maskulin dari parfum Justin terbawa oleh angin dan membuatnya merasa nyaman, menyeruak ke hidungnya dan memberikan sensasi tersendiri. Angin itu membuat imajinasi gadis itu terbebaskan, dia membayangkan berbagai rencana yang telah dia susun, pergi berjalan-jalan bersama Justin dan Bintang, makan bersama, bermain skateboard dan bersepeda di sore hari, dan banyak hal lain lagi yang bisa dia lakukan.
            “Hei, ini benar tempat tinggalmukan?”
Suara Justin mengejutkan Canis, gadis itu tersentak dan langsung menyadari bahwa dia telah berada di depan rumah tempatnya menyewa kamar, gadis itu langsung bergegas turun dari motor Justin.
            “Benar tempatnyakan?”
Justin meyakinkan untuk ke sekian kalinya. Canis menggaruk tengkuknya, merasa malu karena dia terlalu banyak melamun sepanjang perjalanan, dia jadi berpikir apakah Justin juga mengajaknya berbicara selama perjalanan dari tadi.
            “Kamarmu yang mana?” Justin memperhatikan bangunan berlantai tiga itu.
            “Tidak terlihat dari sini, ehm kau mau mampir. Sekalian bertemu Bintang. Dia berjanji membuatkanku kue hari ini. Dia menyewa kamar di gedung sebelah itu” Canis berbicara dengan malu-malu. Justin sedikit mengalihkan perhatiannya ketika mendengar nama itu disebut, ada keanehan dari cowok itu yang tak tertangkap oleh mata Canis.
            “Lain kali saja, aku sudah berjanji dengan Jazzy, ehn aku pulang dulu ya,”
Zayn terburu-buru, dia langsung menutup kaca helmnya setelah tersenyum kepada Canis.


           

Komentar

Postingan Populer